Isnul Jumrohtul Jannah S.Keb., Bd

Isnul Jumrohtul Jannah adalah salah satu dari sekian bidan yang dapat menjadi inspirasi. Bd. Isnul lahir kota gresik Jawa Timur. Beliau lulus dari Pendidikan Kebidanan Unair tahun 2011. Sejak di masa perkuliahan beliau aktif di organisasi kampus, salah satunya adalah memegang amanah sebagai ketua Himpunan Mahasiswa Midwifery Universitas Airlangga. Setelah bidan muda lulus dari kebidanan, beliau sempat mendaftar ke puluhan tempat kerja, baik klinik maupun pendidikan, akan tetapi tidak ada yang menerima. Lantas hal itu membuatnya tidak pantang menyerah dan akhirnya memilih untuk magang di salah satu BPS Surabaya dan berkesempatan mengikuti program RK Mentee yang diselenggarakan oleh Rumah Perubahan Prof. Rhenald Kasali di Jakarta.

Pencerah Nusantara

Selepas dari mengikuti program RK Mentee, beliau terpilih menjadi bagian dari gerakan Pencerah Nusantara, terobosan yang diinisiasi oleh Kantor Utusan Khusus Presiden RI untuk Millennium Development Goals (KUKP-RI MDGs) yang bertujuan memperkuat pelayanan kesehatan primer melalui penempatan generasi muda di daerah perifer di Indonesia. Bidan Isnul bersama 4 pemerhati kesehatan lain yang terdiri dari dokter, perawat, FKM dan sosiolog ditugaskan di salah satu puskesmas di Mamuju Utara, Sulawesi Barat selama 1 tahun. Pencerah Nusantara Penempatan Bidan Isnul adalah salah satu daerah yang menyumbang angka kematian ibu dan bayi cukup tinggi. Bidan Isnul banyak belajar hal baru, salah satunya adalah dengan melakukan berbagai pendekatan dalam membantu Puskesmas setempat untuk mencegah kematian  ibu dan bayi. Selain itu masih banyak lagi pembelajaran yang tidak pernah didapatkan selama perkuliahan, diantaranya pendekatan interpersonal, kolaborasi intraprofesional, manajemen tim, kepemimpinan, pemahaman budaya, dan beragam ilmu lainnya.

Tinggal di daerah terpencil tentunya memiliki cerita dan tantangan yang berbeda dibandingkan di daerah perkotaan. Salah satunya adalah ketimpangan akses informasi, dimana menurut Bidan Isnul masih dirasakan sulit sinyal untuk mencari informasi melalui internet. Selain itu juga faktor demografi yang juga mempersulit tenaga kesehatan untuk melakukan pelayanan secara tepat waktu dan optimal, serta berbagai tantangan lainnya. Daerah Mamaju Utara juga terkenal dengan suku terasing yang dikenal dengan suku Da’a. Mereka bertempat tinggal di daerah pegunungan, biasanya mereka akan menjauh ke atas gunung jika ada orang baru yang masuk, atau memilih untuk tidak keluar rumah. Tentunya hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi tenaga kesehatan lokal untuk melakukan pendekatan bersama tim Pencerah Nusantara.

LoA & Scholarship

Setelah mengikuti program Pencerah Nusantara, banyak hal yang akhirnya merubah pola pikir bidan muda ini. Dulu bidan Isnul berpikir bahwa wilayah kerja bidan sebatas di klinik atau institusi pendidikan, tetapi Bidan Isnul melihat peluang baru dimana bidan bisa bekerja dengan berbagai pendekatan. Setelah menyelesaikan Pencerah Nusantara, Bd Isnul sempat bekerja di Fakultas Keshatan Masyarakat Universitas Airlangga sebagai asisten dosen dan bertanggung jawab terhadap program Geliat Unair. Kemudian beliau memilih resign dan menempuh jalan lain. Beliau ingin melanjutkan kuliah S2, dan sempat mendapatkan beberapa LoA dari kampus di Inggris, serta memperoleh beasiswa dari pemerintahan Inggris, walaupun tidak jadi berangkat. Beliau juga membagikan beberapa tips yang bisa dipersiapkan untuk lanjut S2 Kebidanan di Inggris, lengkapnya langsung saja nonton youtubenya mulai menit ke 15 ya.

Indopads

Sekarang Bd. Isnul sedang fokus dengan social project yang diberi nama Indopads, sebuah produk pembalut kain yang sebagian keuntungannya digunakan untuk kegiatan edukasi kesehatan ibu dan anak. Bd. Isnul adalah seorang midwifepreneur yang tercermin dalam cara berfikirnya. Beliau memproduksi suatu produk yang tujuannya dapat meningkatkan partisipasi perempuan dalam bidang sosial dan ekonomi, juga membantu peningkatan sampah pembalut sekali pakai yang bisa berkontribusi terhadap “climate change”. Indopads berkomitmen untuk bermitra dengan komunitas dan NGO terkait dalam meingkatan SDG’s, tentunya untuk mendukung kesehatan ibu dan anak, serta menjaga kelestarian bumi. Tentu banyak tantangan yang dirasakan oleh Bd. Isnul sebagai midwifepreneur, apalagi banyak yang menanyakan profesi Bidannya karena tidak bekerja di RS maupun klinik. Mungkin teman-teman yang di desa juga banyak yang merasakan hal demikian.

Perubahan

Bd Isnul ingin melakukan perubahan positif untuk lingkungannya. Kata beliau, “Perubahan terjadi karena ada perbedaan, dan hal yang besar selalu dimulai dari hal yang kecil”. Oleh karena itu pesan beliau, kita jangan pernah takut untuk melakukan hal yang berbeda, dan memulainya dari hal-hal yang kecil. Melakukan perubahan dari hal terkecil itulah yang dikerjakan Bd yang satu ini. Bd Isnul memiliki pedoman “Kita boleh berinovasi dalam melakukan pendekatan kebidanan, tetapi jangan pernah melupakan etika profesi dan jati diri bidan itu sendiri”.

Mungkin banyak teman-teman di sana yang juga menerima banyak komentar tetangga, keluarga, atau teman-temannya tentang status kebidanannya. Tetap semangat dan jadikan itu sebagai suntikan motivasi yang terus memicu semangatmu untuk terus mencari solusi bagi ibu dan anak di Indonesia.

WhatsApp chat