Penulis: Erin S

Pemeriksaan ultrasonografi (USG) merupakan pemeriksaan yang sangat populer di kalangan ibu hamil. Memandangi gambaran hitam putih sonogram janin yang ada di perut seakan menjadi hal yang wajib di setiap kehamilan. Hingga tak jarang para calon orang tua menyertakan pemeriksaan ini menjadi bagian yang wajib dari setiap kunjungan pelayanan antenatal. Namun, tidak semua orang menyadari bahwa sebenarnya pemeriksaan ini hanya perlu dilakukan beberapa kali saja berdasarkan kepentingannya, tidak perlu setiap berkunjung atau setiap bulan. Kapan saja waktu yang tepat untuk melakukan pemeriksaan USG?

  1. Sebelum 15 minggu, untuk mengetahui usia gestasi, viabitilitas, letak, jumlah, dan abnormalitas yang berat. Usia gestasi bisa saja tampak pada semua usia kehamilan, namun yang paling akurat adalah saat trimester I. Mengenai abnormalitas yang berat, menurut penelitian, saat usia kehamilan 11-13 minggu sudah bisa diketahui adanya kelainan pada otak, kepala, dan leher pada janin. Trimester I, atau 12 minggu pertama kehamilan adalah masa yang krusial yang mana membutuhkan perhatian lebih. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah abortus, kehamilan ektopik, dan mola hidatidosa. USG akan mempermudah dalam mendiagnosa, sehingga akan lebih tepat dan cepat dalam menangani masalah.

  2. Sekitar 20 minggu, untuk mendeteksi kelainan janin. Lebih tepatnya ini adalah waktu yang pas untuk melakukan USG di trimester II. Tujuan pemeriksaan pada usia kehamilan ini adalah untuk melakukan evaluasi secara detail dan menyeluruh pada janin dan memaksimalkan deteksi kelainan.

  3. Trimester III, untuk persiapan persalinan. Persiapan persalinan secara umum maksudnya memantau pertumbuhan, perkembangan, dan kesejahteraan janin sehingga dapat ditentukan bagaimana dan dimana ibu bersalin. Berdasarkan panduan dari Perinatal Institute, Birmingham City University, hal yang harus diketahui pada trimester III antara lain keadaan jantung janin beserta denyut jantungnya, presentasi dan posisi janin, pertumbuhan janin, taksiran berat janin, plasenta, indeks air ketuban, dan pergerakan janin. Pada trimester tiga, hal yang harus diperiksa melalui USG adalah kelainan atau malformasi dengan late-onset.

Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan USG minimal dilakukan 3 kali selama kehamilan. Kecuali jika terdapat komplikasi dan masalah kehamilan, seperti preeklampsia, plasenta previa, diabetes melitus gestasional, dsb. Jika ada komplikasi tersebut maka kesejahteraan janin harus dipantau secara intensif. (erin)

Sumber:

Kementerian Kesehatan RI, 2013. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. 1st penyunt. Jakarta: Kementerian kesehatan RI.

Perinatal Institute, 2014. Perinatal Institute. [Online]
Available at: https://www.perinatal.org.uk/gap/Resources/Final_Draft_perinatal_institute.pdf
[Diakses 15 April 2019].

Sepulveda, W., Adiego, B., Illescas, T. & Martinez-Ten, P., 2013. Prenatal Detection of Fetal Anomalies at the 11- to 13-Week Scan- Part I: Brain, Face and Neck. Donald School Journal of Ultrasound in Obstetrics and Gynecology, 7(4), pp. 359-368.

Suresh, S. & Suresh, I., 2014. The Second Trimester Obstetric Scan (7 + 3 510): A RationalApproach (Including the ‘‘Rule of Three’’). J. Fetal Med, Volume 1, pp. 59-73.

Susawat, A., Shaheen, R., Inani, K. & Meena, V., 2016. Role of ultrasonography in third trimester pregnancy for early diagnosis of embryonic demise. International Journal of Reproduction, Contraception, Obstetrics and Gynecology, 5(6), pp. 1865-1869.

Verrotti, C., Caforio, E., Gramellini, D. & Nardelli, G. B., 2007. Ultrasound screening in second and third trimester ofpregnancy: an update. Acta Biomed, Volume 78, pp. 229-232.

WhatsApp chat