Penulis: Erin S.

Menjaga kesehatan saat hamil tentu menjadi prioritas bagi setiap ibu hamil, oleh sebab itu mereka rela antre untuk melakukan rangkaian pemeriksaan. Selain pemeriksaan fisik dan penunjang seperti ultrasonografi atau USG, pemeriksaan laboratorium juga penting dilakukan. Umumnya semua orang mengetahui pemeriksaan HCG untuk mendeteksi apakah seorang perempuan hamil atau tidak. Apakah ada pemeriksaan laboratorium yang lain untuk ibu hamil? Apa saja jenisnya? Apa saja fungsinya?

  1. Kadar hemoglobin, pemeriksaan ini dilakukan pada trimester I dan trimester III. Pada trimester I, berfungsi untuk persiapan nutrisi selama masa konsepsi dan pada trimester III berfungsi untuk persiapan persalinan apabila dicurigai anemia.

  2. Golongan darah dan rhesus, diperiksa untuk persiapan perencanaan persalinan dan deteksi dini adanya ketidaksamaan golongan darah dan rhesus antara ibu dan bayi. Pemeriksaan ini penting dilakukan karena, akan jadi masalah jika ada perbedaan golongan darah atau rhesus pada ibu dan bayi. Ketika ibu mempunyai rhesus negatif (Rh negatif) namun bayi mempunyai rhesus (Rh positif), maka ketika terjadi paparan antara darah ibu dan darah bayi saat bersalin atau perdarahan dalam kehamilan, tubuh ibu akan memproduksi protein yang bernama Rh antibodi, yang mana pada kehamilan selanjutnya akan menembus plasenta dan merusak sel darah merah bayi apabila bayi kedua juga mempunyai rhesus positif. Sehingga menyebabkan anemia pada janin yang dapat mengancam hidup.

  3. Skrining HIV dan penyakit menular lainnya, pemeriksaan ini penting dilakukan untuk mencegah penularan dari ibu ke bayi. Dengan skrining lebih awal, dapat menurunkan risiko penularan dan membantu ibu dan bayi mendapatkan penanganan lebih awal karena diagnosa yang lebih awal.

  4. Skrining penyakit endemi tertentu, untuk memastikan apakah ibu hamil sehat dari penyait endemi atau tidak, serta sebagai upaya pengobatan secara dini untuk mencegah dampak pada janin. Misalnya jika suatu daerah terdapat endemi malaria, maka skrining malaria penting dilakukan untuk mengetahui apakah ibu menderita malaria atau tidak, apabila hasil menunjukkan ibu menderita malaria, maka bisa dilakukan tata laksana lebih awal agar tidak berdampak pada janin.

  5. Urinalisis, atau tes urin digunakan untuk mendeteksi apakah ada infeksi pada kandung kemih atau ginjal, diabetes, dehidrasi, dan preeklampsia dengan cara memeriksa kadar protein, reduksi, keton, dan bakteri urin.

  6. Gula Darah Puasa, dilakukan untuk skrining adanya Diabetes Melitus Gestasional. Tes yang paling tepat adalah dengan menggunakan metode tes toleransi glukosa oral yang berfungsi untuk mengidentifikasi cara tubuh dalam menangani glukosa setelah makan. Untuk mendeteksi Diabetes Melitus Gestasional, skrining dilakukan pada minggu ke 24-28 kehamilan.

  7. Tes Sputum BTA, untuk memastikan ibu terbebas dari Tuberkulosis. Namun, hal ini tidak selalu dilakukan, kecuali jika terdapat tanda-tanda tuberkulosis seperti batuk yang berkepanjangan, demam, kelelahan, dan kontak dengan penderita tuberkulosis dalam waktu yang cukup lama (± 2 tahun).

 

Semua pemeriksaan di atas dapat dilakukan di pusat pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas. Untuk ibu hamil di Indonesia yang mempunyai jaminan kesehatan sosial kesehatan mendapatkan fasilitas pemeriksaan laboratorium secara gratis paling tidak 2 kali selama kehamilan di Puskesmas. Pemeriksaan laboratorium penting dilakukan dalam kehamilan untuk menunjang diagnosa, deteksi dini, penanganan lebih awal, dan pencegahan penularan penyakit menular.

 

Sumber:

American Pregnancy Association. (2016, September 2). Getting A Urinalysis: About Urine Tests. Diambil kembali dari American Pregnancy Association: https://americanpregnancy.org/prenatal-testing/urine-test/

Institute of Medicine (US) Committee on Prenatal and Newborn Screening for HIV Infection. (1991). HIV Screening of Pregnant Women and Newborns. Washington DC: National Academies Press .

Kementerian Kesehatan RI, 2013. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. 1st penyunt. Jakarta: Kementerian kesehatan RI.

Mayo Clinic. (2018, March 20). Glucose Tolerance Test. Diambil kembali dari Mayo Clinic: https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/glucose-tolerance-test/about/pac-20394296

Mayo Clinic. (2018, June 14). Rh factor blood test. Diambil kembali dari Mayo Clinic: https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/rh-factor/about/pac-20394960

 

WhatsApp chat